Reading
Add Comment
Bangun subuh-subuh, lanjut sholat, mandi, dan siap siap buat jalan-jalan. Sebelum memulai aktivitas, kita makan dulu ya kan... Nasi kuning yang sudah include dengan fasilitas penginapan, dengan air putih saja.
Namanya juga dadakan, betul betul tanpa rencana mau kemana mana. Oh iya, kemarin karena dadakan mesen kamarnya Juag sehari doang, akhirnya pas makan saya bilang ke resepsionisnya untuk extended lagi, tapi kalau cash harganya 190 Ribu, cek di Traveloka harganya 177 ribu, okelah kita pesan lagi kamarnya, dan akhirnya diperpanjang. Setelah makan dan perpanjang kamar, pagi itu saya putuskan untuk liat liat Pantai Losari saja, mumpung sepi karena masih pagi. Karena sepi itulah bisa foto dengan latar tulisan "Pantai Losari" dengan tanpa gangguan.
Puas plus bosan dengan selfi sendirian di Losari, saya ke Benteng Ford Rotterdam yang cuman 2 kilo jaraknya. Karena dekat, ya jalan kaki saja kesana. Beberapa kali Daeng becak menawarkan untuk naik becaknya, tapi saya tolak karena takut mahal ji... Hahaha
Sampai di Fort Rotterdam, saya isi buku tamu dulu, dan memberikan uang Rp. 10.000 ke Pak Security yang saya gak tau harusnya gratis apa emang bayar. Okeh kita masuk ke situs bersejarah di Sulawesi Selatan ini, yang merupakan benteng terdepan dalam menghalau VOC pada zaman dahulu. Saya senang dengan lingkungan benteng tersebut, bersih, tapi andaikan suasananya bisa membawa kita seolah kembali ke masa lalu, saya akan senang sekali. Bukan hanya bangunan saja yang menandakan itu masa lalu. Itu karena beberapa bagian bangunan benteng ini digunakan untuk suatu hal, dan mobil dan motor lalu lalang di area benteng, padahal akan lebih baik kalau lingkungan dalam benteng tetap dijaga sebagaimana layaknya zaman dulu. Tapi itu semua subjektif ya, namun saya senang karena akhirnya bisa kesini.
Cukup lama juga ada di tempat ini, sampai akhirnya matahari berada di atas kepala dan rasa lapar mulai merasuk jiwa, Rasa penasaran pengen makan Coto Makassar asli Makassar, hahaha... Sebenarnya bukan hal yang asing, soalnya hidup di Kalimantan dengan masyarakat yang beragam dan banyak Coto Makassar di Balikpapan, namun pengen ngerasain yang versi di kota aslinya. Googling cari yang terdekat, akhirnya Nemu Coto Makassar Nusantara. Jaraknya 1 kilo dari Fort Rotterdam, hadeeeh sudah lapar masih harus jalan pula.
Coto Makassar udah ditangan, kalau menurut saya ada perbedaan dengan yang versi di Kalimantan, sambalnya lebih gelap, dan rasa kuahnya juga beda. Entah beda tempat makan atau gimana ya, yang pasti beda, tapi sama sama enak. Di tambah dengan segelas es jeruk aduhai segeranya.
Kenyang, nggak tau lagi mau kemana, karena betul betul nggak ada perencanaan, jadi nggak tau mau kemana. Mau ke Bantimurung jaraknya jauh, Tanjung Bira apalagi, hadeh betul betul bingung euy. Betul betul ngalor ngidul aja di kota orang.
Liat ATM mampir bentar, karena saya liburan dadakan pas tanggal dimana gaji seharusnya masuk. Ternyata perkara muncul, ATM gak kunjung terisi gaji. Aduh, pikiran pun jadi kacau balau, peganggan tinggal Rp. 100.000,- dengan beberapa uang ribuan dan belum beli tiket pulang, mampus. Gini mau mikir ke Bantimurung atau Tanjung Bira, duit aja kagak ada. Akhirnya pulang ke penginapan aja, waktu itu masih pukul dua siang, lalu tidur dan bangun waktu ashar.
Pikiran mumet, nelpon teman yang di Balikpapan menanyakan gaji kok belum masuk. Hahaha temen pun juga heran. Saya coba minjem beberapa teman duit, tapi nggak berhasil, pada nggak ada semua, atau nggak mau pinjamin saya nggak tau. Kepikiran saldo Tcash terus saldo di Bank bank yang lain, akhirnya saya transfer ke satu rekening, padahal kena potongan 6500 per transaksi. Namanya juga darurat, sudah nggak mikir yang kayak begituan.
Dari kumpulan duit terkumpul Rp. 323.000,- yang masih kurang banget kalau mau beli tiket pulang. Iya, mikirnya mau menyelamatkan penerbangan pulang dulu sebelum harga tiket menjadi melambung. Coba call salah seorang teman lagi, Alhamdulillah dapat pinjaman dana segar 150 ribu. Langsung tanpa pikir panjang beli tiket pulang keesokan harinya, dapat Penerbangan Sriwijaya Air dengan harga Rp. 417.982 di Traveoka. Rasa syukur saya panjatkan karena paling nggak se nggak ada duit besok, saya masih bisa pulang walaupun nggak makan, hahaha.
Hal krusial udah aman, akhirnya bisa sedikit lega. Karena tinggal 100 ribu di tangan dan letak ATM yang jauh dan isinya tinggal 50 ribu saya nggak ambil untuk jaga-jaga karena harus survive dengan duit yang ada, show must go on. Kita harus tetap senang dengan keadaan yang ada, tsah.
Sore itu, ke Pantai Losari lagi, hahaha kesini muluk. Waktu itu ada ibuk-ibuk senam, jadinya nontonin mereka aja yang senamnya luar biasa membuat lemak-lemak di badan bergoyang ke kanan dan ke kiri untuk di bakar. Bosan, saya pun memutuskan untuk jalan-jalan lagi sepanjang pantai, melihat hiruk pikuk kehidupan kota disana sambil hunting-hunting foto dan menikmati senja terakhir saya di Makassar waktu itu. Pantai Losari mengingatkan saya dengan Pantai Melawai di Balikpapan, maupun Tepian Mahakam, dimana selalu ramai dengan masyarakat yang juga ingin bersantai melepas penat. Saya pun ngerasa betah sekali dan rasanya nggak pengen pulang, hahaha.
Oh ya menurut saya Pantai Losari ini indah. Namun seperti permasalahan dimanapun di Indonesia, masih aja dijumpai sampah di laut, jadi makin memunculkan bau yang kurang sedap di hidung. Dan juga di beberapa titik yang sepi tercium bau pesing, aduhai masih ada aja ya kan yang pipis sembarangan.
Semakin menuju maghrib, saya jalan menuju Masjid Amirul Mukminin yang ada di ujung komplek, hahah Pantai Losari. Masjid tersebut yang berada di atas air, jadi nggak menapak pada tanah, tapi pada tiang tiang penyangga. Masjid yang dulu saya hanya liat di gambar akhirnya saya bisa sholat disitu, dan cukup ramai juga. Saya sih nggak tau ya asal mula dan sejarahnya gimana, yang pasti saya suka aja dengan tempat ini.
Malam harinya gabut, nggak tau mau kemana, dengan duit yang tersisa nggak mungkin kan jalan-jalan jauh, apalagi ke Trans Studio Mall, hahaha. Ujung-ujungnya ke sebrang jalan lagi, liat makanan yang pengen di makan, pilihannya pun jatuh ke Pisang Epe, ya Pisang dibakar dipenyetin di kasih yang manis-manis gitu. Pesenlah saya satu porsi dan Wedang Sarabba, semacam minuman jahe gitu dengan susu, tujuannya buat ngangetin badan yang mulai kurang fit. Taraa... pesanan datang, saya pikir porsinya sedikit, nggak taunya besar, di tambah dengan irisan coklat, keju, dan baluran susu kental yang naujubila banyaknya, sanggup bikin kalori melonjak naik. hahahah... Soal rasa lumayan lah, so so... yang penting kenyang, soal harga saya kaget banget cuman habis 15.000 saja, padahal udah ekspektasi sampai 25 ribu, karena biasa di Balikpapan apa-apa juga mahal. Yah lumayan buat menghemat kantong.
Sisa malamnya di habiskan di Roof top penginapan, dengan view lagi lagi Pantai Losari, bener-bener better place buat nginep deh, belum lagi ada kafe di bawah dan juga pusat oleh-oleh Somba Opu di jalan belakang gedung penginapan ini.
Okay, Perjalanan Absurd hari kedua pun kelar, berikut list budget / Itinerary saya di hari ini
Bayar Penginapan (Lagi) = Rp. 177.025
Masuk Ford Rotterdam = Rp. 10.000
Makan Cotto Makassar + Es Jeruk = Rp. 30.000
Beli Tiket Pesawat (Pulang) = Rp.417.932
Pisang Eppe + Sarabba = 15.000
Jajan = Rp 15.000
Grand Total : Rp. 664.957 (Rp. 665.000,-)
Liburan
Liat ATM mampir bentar, karena saya liburan dadakan pas tanggal dimana gaji seharusnya masuk. Ternyata perkara muncul, ATM gak kunjung terisi gaji. Aduh, pikiran pun jadi kacau balau, peganggan tinggal Rp. 100.000,- dengan beberapa uang ribuan dan belum beli tiket pulang, mampus. Gini mau mikir ke Bantimurung atau Tanjung Bira, duit aja kagak ada. Akhirnya pulang ke penginapan aja, waktu itu masih pukul dua siang, lalu tidur dan bangun waktu ashar.
Pikiran mumet, nelpon teman yang di Balikpapan menanyakan gaji kok belum masuk. Hahaha temen pun juga heran. Saya coba minjem beberapa teman duit, tapi nggak berhasil, pada nggak ada semua, atau nggak mau pinjamin saya nggak tau. Kepikiran saldo Tcash terus saldo di Bank bank yang lain, akhirnya saya transfer ke satu rekening, padahal kena potongan 6500 per transaksi. Namanya juga darurat, sudah nggak mikir yang kayak begituan.
Dari kumpulan duit terkumpul Rp. 323.000,- yang masih kurang banget kalau mau beli tiket pulang. Iya, mikirnya mau menyelamatkan penerbangan pulang dulu sebelum harga tiket menjadi melambung. Coba call salah seorang teman lagi, Alhamdulillah dapat pinjaman dana segar 150 ribu. Langsung tanpa pikir panjang beli tiket pulang keesokan harinya, dapat Penerbangan Sriwijaya Air dengan harga Rp. 417.982 di Traveoka. Rasa syukur saya panjatkan karena paling nggak se nggak ada duit besok, saya masih bisa pulang walaupun nggak makan, hahaha.
Hal krusial udah aman, akhirnya bisa sedikit lega. Karena tinggal 100 ribu di tangan dan letak ATM yang jauh dan isinya tinggal 50 ribu saya nggak ambil untuk jaga-jaga karena harus survive dengan duit yang ada, show must go on. Kita harus tetap senang dengan keadaan yang ada, tsah.
Sore itu, ke Pantai Losari lagi, hahaha kesini muluk. Waktu itu ada ibuk-ibuk senam, jadinya nontonin mereka aja yang senamnya luar biasa membuat lemak-lemak di badan bergoyang ke kanan dan ke kiri untuk di bakar. Bosan, saya pun memutuskan untuk jalan-jalan lagi sepanjang pantai, melihat hiruk pikuk kehidupan kota disana sambil hunting-hunting foto dan menikmati senja terakhir saya di Makassar waktu itu. Pantai Losari mengingatkan saya dengan Pantai Melawai di Balikpapan, maupun Tepian Mahakam, dimana selalu ramai dengan masyarakat yang juga ingin bersantai melepas penat. Saya pun ngerasa betah sekali dan rasanya nggak pengen pulang, hahaha.
Oh ya menurut saya Pantai Losari ini indah. Namun seperti permasalahan dimanapun di Indonesia, masih aja dijumpai sampah di laut, jadi makin memunculkan bau yang kurang sedap di hidung. Dan juga di beberapa titik yang sepi tercium bau pesing, aduhai masih ada aja ya kan yang pipis sembarangan.
Semakin menuju maghrib, saya jalan menuju Masjid Amirul Mukminin yang ada di ujung komplek, hahah Pantai Losari. Masjid tersebut yang berada di atas air, jadi nggak menapak pada tanah, tapi pada tiang tiang penyangga. Masjid yang dulu saya hanya liat di gambar akhirnya saya bisa sholat disitu, dan cukup ramai juga. Saya sih nggak tau ya asal mula dan sejarahnya gimana, yang pasti saya suka aja dengan tempat ini.
Malam harinya gabut, nggak tau mau kemana, dengan duit yang tersisa nggak mungkin kan jalan-jalan jauh, apalagi ke Trans Studio Mall, hahaha. Ujung-ujungnya ke sebrang jalan lagi, liat makanan yang pengen di makan, pilihannya pun jatuh ke Pisang Epe, ya Pisang dibakar dipenyetin di kasih yang manis-manis gitu. Pesenlah saya satu porsi dan Wedang Sarabba, semacam minuman jahe gitu dengan susu, tujuannya buat ngangetin badan yang mulai kurang fit. Taraa... pesanan datang, saya pikir porsinya sedikit, nggak taunya besar, di tambah dengan irisan coklat, keju, dan baluran susu kental yang naujubila banyaknya, sanggup bikin kalori melonjak naik. hahahah... Soal rasa lumayan lah, so so... yang penting kenyang, soal harga saya kaget banget cuman habis 15.000 saja, padahal udah ekspektasi sampai 25 ribu, karena biasa di Balikpapan apa-apa juga mahal. Yah lumayan buat menghemat kantong.
Sisa malamnya di habiskan di Roof top penginapan, dengan view lagi lagi Pantai Losari, bener-bener better place buat nginep deh, belum lagi ada kafe di bawah dan juga pusat oleh-oleh Somba Opu di jalan belakang gedung penginapan ini.
=======
Okay, Perjalanan Absurd hari kedua pun kelar, berikut list budget / Itinerary saya di hari ini
Bayar Penginapan (Lagi) = Rp. 177.025
Masuk Ford Rotterdam = Rp. 10.000
Makan Cotto Makassar + Es Jeruk = Rp. 30.000
Beli Tiket Pesawat (Pulang) = Rp.417.932
Pisang Eppe + Sarabba = 15.000
Jajan = Rp 15.000
Grand Total : Rp. 664.957 (Rp. 665.000,-)







0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komentar, Tanggapan, atau Membuka ruang diskusi, yang penting jangan ada iklan Viagra, Pinjam Duit, atau Nomor Togel Mbah Somplak -___-" Hahaha