Reading
Add Comment
Malam kamis kemarin, atau Rabu malam, tepatnya tanggal 20 Desember 2017, saya sedang jadwalnya rehat kerja, jadinya di kost aja. Hmm nggak produktif sama sekali ya kalo libur cuman melampiaskan diri dengan tiduran di rumah aja. Nggak tau kenapa pengen aja cari perspektif baru, pengen keluar dari cara pandang yang ada aja sekarang.
Akhirnya temen ada nge bagikan post di Instagram tentang acara yang bertajuk "Kekerasan Seksual Terhadap Anak". Hmm pikir saya daripada di rumah mending ikutan forum diskusi yang bermanfaat aja sekalian membuka pola pikir yang saya pahami. Bahasannya juga pastinya bukan yang digandrungi anak anak jaman sekarang karena bukan sesuatu yang have fun.
Sehari sebelumnya saya confirm ke temen saya
"Kamu datang nggak besok?"
"Besok datang, Insyaallah"
Yah pertanyaan klasik yang pasti bakal di tanyakan kalau menghadiri sesuatu yang baru. Soalnya pasti kalo ada temen kan gak canggung dong. Akhirnya saya tekad untuk datang ada atau tanpa temen.
Waktu pun berlalu, Halah kaya lama aja padahal sehari doang. Acaranya mulai jam 19.30 WITA dan waktu itu bertepatan dengan jam sholat isya, karena sholat dulu pas sampai tempat kejadian perkara ternyata sudah mulai, berarti acaranya on time. Good.
Oh iya kegiatan ini gak di adakan di sebuah rumah atau aula atau gedung loh, melainkan di tengah-tengah pasar tradisional, yakni Pasar Klandasan Balikpapan. Yup, bertempat di sebuah kios kecil di tengah pasar. Nama kiosnya adalah Pena dan Buku. Bukan kios tempat jualan loh ya, tapi ini tempat baca-baca buku yang tempatnya ada di pasar, keren. Akan saya bahas terpisah di tulisan yang lain deh.
Karena saya telat setengah jam, selain karena sholat tapi juga masih nyari tempatnya yang di dalam pasar, jadi agak ketinggalan di bagian awal, tapi itu nggak menurunkan semangat saya *biar dramatis cuy, hahaha.
Karena saya telat setengah jam, selain karena sholat tapi juga masih nyari tempatnya yang di dalam pasar, jadi agak ketinggalan di bagian awal, tapi itu nggak menurunkan semangat saya *biar dramatis cuy, hahaha.
Kecil kan tempatnya, tapi biarpun begitu tetap terasa seru dan membuka pemikiran loh. Oh ya nama acaranya Selasar 17, diadakan oleh Pena dan Buku, dan yang jadi narasumber adalah Mbak Helga Inneke Wororitjan, seorang Aktivis Perempuan dan Anak dan Ibu Sri Wahyuningsih, Kepala DP3AKB Balikpapan. To be honest saya nggak begitu tau ya siapa mereka, tapi bagi saya yang penting adalah ilmunya, sharing pola pikir tentang permasalahan yang sedang jadi momok di kota saya.
Karena saya telat dan memang tempatnya kecil, mau gak mau saya dan yang lain berdiri, tapi nggak menyurutkan semangat mendengarkan materi meski tanpa pengeras suara dan di warnai suara suara kegiatan pasar. Seru, iya.
Kekerasan seksual sendiri, terutama pada anak sangat menjadi perhatian akhir akhir ini, bagaimana tidak, bulan lalu kota kami digemparkan oleh berita kekerasan seksual pada anak yang di lakukan oleh orang yang berpengaruh di Balikpapan, dan umurnya juga masih lebih muda dari saya. Dia adalah pucuk pimpinan organisasi yang keren menurut saya, mampu mengajak anak anak SMP SMA dalam kegiatan yang positif. Nggak nyangka dan sangat di sayangkan sih sebenarnya, terlebih dia juga teman walau tidak dekat karena kami pernah dalam kegiatan yang sama. Ya itu sekelumit masalah yang ada di kota ini, tapi Selasar ini membahas yang lebih umum, membuka wawasan kami. Yang pasti momentum ini yang menjadikan adanya kegiatan ini.
Seru, asik, menambah wawasan. Dan yang pasti saya juga mengajak yang baca ini untuk tidak melakukan pembiaran terhadap segala bentuk kekerasan seksual pada anak, karena anak anak loh guys, belum tau apa-apa, jangan sampai nafsu orang dewasa merusak anak anak yang masih polos dan bahagia dengan masa kecilnya. Kan gak mau kali kita punya adik, ponakan, atau keluarga kita menjadi korban atau bahkan pelaku kekerasan seksual pada anak.
Mari kita ajarkan adik, keponakan, atau saudara kita yang mungkin masih bocah untuk tahu mana bagian dari tubuh yang boleh dan tidak boleh do sentuh oleh lawan jenis, termasuk orang tua. Serta memberikan pemahaman apa yang harus dilakukan apabila melihat ataupun mengalami hal yang sekiranya mengarah kepada bentuk pelecehan seksual.
Oh iya, jangan pernah menyalahkan korban, karena korban tetaplah korban, bantu dia minimal dengan menjaga identitas nya, jangan sampai kita ikut menyebarkan aib buruk yang ia terima karena itu bukan keinginannya. Betul kata Mbak Helga, kita hidup di dalam masyarakat yang ember, hahaha tapi emang bener. Langsung menjadi buah bibir dan viral, sehingga korban merasa seperti orang yang sudah hina, padahal tidak ada yang salah dengan diri mereka. Namun masyarakat yang menstigmatisasinya menjadi seperti itu. Tapi untuk masalah ini yuk jangan seperti itu, coba dibalik posisinya pasti akan kasihan.
Antusiasme para hadirin, wadaw formal ya, gimana? Wah nggak diragukan lagi, banyak pertanyaan sebenarnya yang ingin di lemparkan ke narasumber, namun keterbatasan waktu menjadikan pertanyaan yang di tampung sepertinya sekitar empat orang yang mana pertanyaannya pasti bercabang, hahaha.
Yang menarik adalah pertanyaan itu adalah pertanyaan pertanyaan kritis yang saya sendiri nggak sampai menanyakannya, dan itu cukup mampu meningkatkan pengetahuan saya, walaupun harus di pilah pilih juga yang mana yang bagus dan tidak. Pertanyaan mengenai pencegahan, solusi kongkrit dari lembaga pemerintah yang mengurusi masalah ini, bahkan solusi yang bagus seperti apa supaya kejadian pada anak bisa diminimalisir karena mereka adalah penerus bangsa. Semua punya semangat yang sama untuk itu.
Acara berakhir jam 21.30 malam dan itu pun masih ada yang ingin bertanya namun keterbatasan waktu membuat banyak pertanyaan yang di hold dan di diskusikan selepas acara. Akhir kata yuk kita lindungi anak-anak kita, minimal kalau tidak bisa berbuat di lingkup yang besar, kita jaga anak-anak yang menjadi bagian dari keluarga kita.
Okay, itu dulu kesahan hari ini, panjang ya, hooh. Saya mah sukanya nulis, tapi mutar mutar, hahaha, semoga bermanfaat dan kalo bisa ada diskusi monggo di kolom komentar. :)
Karena saya telat dan memang tempatnya kecil, mau gak mau saya dan yang lain berdiri, tapi nggak menyurutkan semangat mendengarkan materi meski tanpa pengeras suara dan di warnai suara suara kegiatan pasar. Seru, iya.
Kekerasan seksual sendiri, terutama pada anak sangat menjadi perhatian akhir akhir ini, bagaimana tidak, bulan lalu kota kami digemparkan oleh berita kekerasan seksual pada anak yang di lakukan oleh orang yang berpengaruh di Balikpapan, dan umurnya juga masih lebih muda dari saya. Dia adalah pucuk pimpinan organisasi yang keren menurut saya, mampu mengajak anak anak SMP SMA dalam kegiatan yang positif. Nggak nyangka dan sangat di sayangkan sih sebenarnya, terlebih dia juga teman walau tidak dekat karena kami pernah dalam kegiatan yang sama. Ya itu sekelumit masalah yang ada di kota ini, tapi Selasar ini membahas yang lebih umum, membuka wawasan kami. Yang pasti momentum ini yang menjadikan adanya kegiatan ini.
Seru, asik, menambah wawasan. Dan yang pasti saya juga mengajak yang baca ini untuk tidak melakukan pembiaran terhadap segala bentuk kekerasan seksual pada anak, karena anak anak loh guys, belum tau apa-apa, jangan sampai nafsu orang dewasa merusak anak anak yang masih polos dan bahagia dengan masa kecilnya. Kan gak mau kali kita punya adik, ponakan, atau keluarga kita menjadi korban atau bahkan pelaku kekerasan seksual pada anak.
Mari kita ajarkan adik, keponakan, atau saudara kita yang mungkin masih bocah untuk tahu mana bagian dari tubuh yang boleh dan tidak boleh do sentuh oleh lawan jenis, termasuk orang tua. Serta memberikan pemahaman apa yang harus dilakukan apabila melihat ataupun mengalami hal yang sekiranya mengarah kepada bentuk pelecehan seksual.
Oh iya, jangan pernah menyalahkan korban, karena korban tetaplah korban, bantu dia minimal dengan menjaga identitas nya, jangan sampai kita ikut menyebarkan aib buruk yang ia terima karena itu bukan keinginannya. Betul kata Mbak Helga, kita hidup di dalam masyarakat yang ember, hahaha tapi emang bener. Langsung menjadi buah bibir dan viral, sehingga korban merasa seperti orang yang sudah hina, padahal tidak ada yang salah dengan diri mereka. Namun masyarakat yang menstigmatisasinya menjadi seperti itu. Tapi untuk masalah ini yuk jangan seperti itu, coba dibalik posisinya pasti akan kasihan.
Antusiasme para hadirin, wadaw formal ya, gimana? Wah nggak diragukan lagi, banyak pertanyaan sebenarnya yang ingin di lemparkan ke narasumber, namun keterbatasan waktu menjadikan pertanyaan yang di tampung sepertinya sekitar empat orang yang mana pertanyaannya pasti bercabang, hahaha.
Yang menarik adalah pertanyaan itu adalah pertanyaan pertanyaan kritis yang saya sendiri nggak sampai menanyakannya, dan itu cukup mampu meningkatkan pengetahuan saya, walaupun harus di pilah pilih juga yang mana yang bagus dan tidak. Pertanyaan mengenai pencegahan, solusi kongkrit dari lembaga pemerintah yang mengurusi masalah ini, bahkan solusi yang bagus seperti apa supaya kejadian pada anak bisa diminimalisir karena mereka adalah penerus bangsa. Semua punya semangat yang sama untuk itu.
Acara berakhir jam 21.30 malam dan itu pun masih ada yang ingin bertanya namun keterbatasan waktu membuat banyak pertanyaan yang di hold dan di diskusikan selepas acara. Akhir kata yuk kita lindungi anak-anak kita, minimal kalau tidak bisa berbuat di lingkup yang besar, kita jaga anak-anak yang menjadi bagian dari keluarga kita.
Okay, itu dulu kesahan hari ini, panjang ya, hooh. Saya mah sukanya nulis, tapi mutar mutar, hahaha, semoga bermanfaat dan kalo bisa ada diskusi monggo di kolom komentar. :)

0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komentar, Tanggapan, atau Membuka ruang diskusi, yang penting jangan ada iklan Viagra, Pinjam Duit, atau Nomor Togel Mbah Somplak -___-" Hahaha